Kekerasan
Orangtua Terhadap Anak di Rumah
Latar Belakang
Masalah
Setiap anak
pasti ingin disayang oleh orangtuanya, oleh sebab itu orangtua harus merawat
dan menjaga anak nya dengan benar
dan baik. Tetapi seiring berjalannya waktu banyak orangtua yang
mengajarkan kekerasan ataupun memberi kekerasan terhadap anaknya sendiri.
Banyak faktor yang menyebabkan kekerasan terhadap
anak. Solusi untuk menghindari
kekerasan itu bisa diatasi sesuai dengan keadaan orangtuanya masing-masing.
Jika anak salah, orangtua bisa memberikan hukuman yang pantas dan tidak kelewat
batas agar anak tersebut dapat mengubah dirinya menjadi lebih baik dan berguna.
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1990), Kekerasan adalah “perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang
menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik
atau barang orang lain.” Sedangkan dalam The
Social Work Dictionary Barker (dikutip dalam Huraerah, 2007) mendefinisikan “kekerasan adalah perilaku
tidak layak yang mengakibatkan kerugian atau bahaya secara fisik, psikologis,
atau finansial, baik yang dialami individu maupun kelompok”. Definisi kekerasan pada
anak menurut Encyclopedia Article from
Encarta (dikutip dalam Huraerah, 2007) mendefinisikan “kekerasan terhadap
anak adalah perbuatan disengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap
anak-anak secara fisik maupun emosional.”
Bentuk-bentuk
Kekerasan
Menurut Lawson
dan Suharto (dikutip dalam Huraerah, 2007) bentuk-bentuk
kekerasan dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) kekerasan anak secara fisik, penyiksaan, pemukulan, dan penganiayaan
terhadap anak, dengan atau tanpa menggunakan benda-benda tertentu, yang
menimbulkan luka-luka fisik atau kematian pada anak; (b) kekerasan anak secara psikis, meliputi penghardikan, penyampaian
kata-kata kasar dan kotor, memperlihatkan buku, gambar, dan film pornografi
pada anak; (c) kekerasan anak secara seksual, dapat
berupa perlakuan prakontak seksual antara anak dengan orang yang lebih besar
maupun perlakuan kontak seksual secara langsung antara anak dengan orang
dewasa; dan (d) kekerasan anak secara sosial, dapat
mencakup penelantaran anak dan eksploitasi anak.
Kekerasan
dalam bentuk penelantaran. Penelantaran
pada umumnya dilakukan dengan cara (a) gizi buruk, (b) kurang gizi, (c) tidak
mendapatkan perawatan kesehatan yang memadai, (d) memaksa anak menjadi pengemis
atau pengamen, dan (e) memaksa anak menjadi anak jalanan atau jenis perkerjaan
lainnya yang membahayakan pertumbuhan dan perkembangan anak. (dikutip dalam
Yusuf, 2000)
Menurut Rusmil
(2004) ia menjelaskan “apabila orangtua tidak dapat memenuhi kebutuhan, baik
kebutuhan fisik, psikis ataupun emosi, tidak memberikan perhatian dan sarana
untuk berkembang sesuai dengan tugas perkembangannya juga merupakan tindakan
penelantaran.”
Dampak Kekerasan terhadap
Tumbuh Kembang Anaknya
Dampak
kekerasan memiliki dampak besar pada aspek kesehatan yang berpengaruh buruk
terhadap proses tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun psikologis yang paling utama adalah trauma psikologis yang
berdampak pada penurunan kualitas hidup anak yang berada dalam proses tumbuh
kembang (Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
Dampak jangka pendek dan jangka panjang
kekerasan terhadap anak. Menurut Kembaren (2014) dampak kekerasan dapat dibedakan menjadi: (a) jangka pendek,
dampak ini berhubungan dengan masalah fisik dan juga seringkali terjadi pada
gangguan emosi atau perubahan perilaku; dan (b) jangka panjang, dampak ini terjadi pada kekerasan
fisik, seksual, maupun emosional.
Penanganan
Kekerasan pada Anak
Penanganan
kekerasan terhadap anak menurut Kembaren (2014)
dapat diatasi dengan cara: (a)
pencegahan, dilakukan secara bersama dalam bentuk sosialisasi hak-hak anak dan
sejumlah peraturan ditengah-tengah kehidupan masyarakat dan keluarga; (b) deteksi dini,
bagi anak yang rentan terhadap terjadinya kekerasan serta dalam lingkungan
keluarga dan masyarakat perlu dilakukan langkah cepat untuk mengevakuasi
sementara anak ke tempat yang aman, serta memberikan peringatan dini kepada
lingkungan keluarga yang rentan melakukan kekerasan; dan (c) intervensi
krisis, bagi anak-anak yang telah mengalami kekerasan, aktivitas ini dilakukan
dengan metoda mendampingi korban dan keluarga korban untuk melakukan upaya
hukum, dan melakukan terapi terhadap
trauma yang diakibatkan oleh tindak kekerasan.
Simpulan
Setiap anak menginginkan kehidupan dan pendidikan yang layak dari
orangtuanya masing-masing. Peran perkembangan orangtua sangatlah penting bagi
anak, karena dari hal tersebut anak mempelajari apa yang diajarkan dan apa yang
dilakukan dari
perilaku orangtuanya. Anak akan menjadi baik jika ia
diberikan perilaku yang baik dari orangtuanya, dan anak akan menjadi jahat jika
ia diberikan perilaku yang kasar atau jahat dari orangtuanya.
Orangtua seharusnya mendidik anaknya dengan baik tanpa adanya kekerasan
yang membuat anak merasa terkucilkan. Pemberian hukuman harus disertai dengan
alasan dan takaran yang cukup agar anak tidak merasa bahwa dirinya tidak
berguna dan bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik. Kekerasan terhadap anak
harus dihindari baik secara fisik ataupun mental agar kesehatan anak tidak
terganggu.
Daftar
Pustaka
Huraerah, A. (2007). Kekerasan terhadap anak. Jakarta: Nuansa.
Huraerah, A. (2007). Kekerasan terhadap anak (edisi ke-3). Bandung: Nuansa Cendekia.
Kembaren, L. (2014). Kekerasan pada anak dan dampaknya. Diunduh dari
http://www.sorasirulo.com/2014/06/28/kekerasan-pada-anak-dan-dampaknya/
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2014, Agustus). Dampak kekerasan terhadap tumbuh kembang anak. Diunduh
dari
http://www.gizikia.depkes.go.id/sekretariat/dampak-kekerasan-terhadap-tumbuh-kembang-anak/
Moeliono, A. M. (1990). Kamus besar bahasa indonesia (edisi ke-5). Jakarta: Balai Pustaka.
Yusuf, S. (2000). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.